Senin, 13 Agustus 2012

Ode Malam Untuk Kekasih

Malam tetap saja  menahan lelapku..
Malam masih saja mengganjal kantukku..
Sedari tadi sudah kukatupkan mata sipit ini, dalam gelapnya masih kudapati wajah ayumu dengan segala yang aku cintai terlukis disana..

Kekasihku..
Engkau peluk lelahku yang akut dengan caramu sendiri yang  terkadang buatku menerka - nerka di balik sekat jarak..
Tapi dalam rumah hatiku malah semakin yakin bahwa engkau adalah ratu ditiap yang kulalui dan kujejak di semesta kecilku ini..
Keyakinan ini datang begitu saja di tiap aku terbangun dari tidurku..
Keyakinan ini datang begitu saja di tiap aku merajut waktu berdua denganmu..
Keyakinan yang membiak bersama alunan kidung doa di sepanjang hari...


Kekasihku..
Aku ini lelaki yang tak pandai bicara apalagi menyusun bahasa...

Kekasihku..
Engkau adalah gravitasi yang slalu saja berhasil membuat lelaki ini terkapar di halaman hatimu..
Menerka - nerka apa yang engkau rasakan saat beranjak ditengah malam...

Kekasihku..
Engkau adalah adagium yang slalu saja berhasil membuat lelaki ini menyusun doa lalu mengirimkannya mengetuk pintu langit..
Mengharap kisah ini segera menemukan pintu terindahnya untuk kita buka berdua...

Kekasihku..
Engkau adalah rindu yang slalu saja berhasil membuat lelaki ini menambah kantong sabar untuk menampung luapan kangen yang tak terkira..
Menabungnya untuk bekal menuju beradamu esok hari...

Kekasihku..
Engkau adalah bahasa yang slalu saja berhasil membuat lelaki ini merapikan tiap kata yang kulahirkan di atas lembaran - lembaran waktu..
Menuliskan kata melukis bahasa menyampaikan rasa...

Kekasihku..
Engkau adalah semesta kecil yang slalu saja berhasil menenangkan sekaligus membuat khawatir lelaki ini..
Dua sisi yang mengisyaratkan separuhku adalah dirimu...

Kekasihku..
Engkau adalah doa..
Engkau adalah harapan..
Engkau adalah masa depan..
Engkau adalah kekasihku...

Kethut Ragil
Jakarta, 12 Agustus 2012
Untuk Widya

Sabtu, 11 Agustus 2012

Widya

Dear Widya...
Waktu melewatiku bergegas..
Merapikan peluh tapi bukan mengeluh..
Menabung rindu yang seharian ini terus terlahir..
Menabung kata yang sedari pagi kurangkai padamu..

Dear Widya...
Malam mulai menggamit senja berteman bebunyian adzan maghrib..
Terkirim baris bahasa tanda pintu rindu mulai dibuka..
Tersampaikan deras kata, isyarat tabungan rindu terpecah sebagian..

Tunggu sejenak Widya...
Adzan Isya' memanggilku untuk sejenak bersujud syukur untuk semua ini..
Untuk hidup sederhana di kota mewah ini..
Untuk doa - doa yang mengguyur kita sedari kita bergandeng..
Untuk engkau yang slalu bisa membuatku terus berlari, melewati mampetnya ibukota..
Untuk semua duniamu yang membuatku terus belajar menjadi lelaki biasa tapi luar biasa!

Dear Widya...
Tunggu aku berdialog dengan Tuhan..


Kethut Ragil
Jakarta, 31 Juli 2012

Sabtu, 21 Juli 2012

Tau Tau

Duhai Gadis..
Tau tau aku memikirkanmu..
Tau tau aku mengkhawatirkanmu..
Tau tau aku merindukanmu..
Tau tau aku begitu memikirkanmu..
Tau tau aku begitu mengkhawatirkanmu..
Tau tau aku begitu merindukanmu..

Duhai Gadis..
Tau tau aku terjaga menjaga malam..
Tau tau aku terkapar berteman sepi..
Tau tau aku terjaga diantara doa..
Tau tau aku tertampar fajar..
Tau tau aku tersadar kala pagi menjelang..

Duhai Gadis..
Tau tau aku mencintaimu...

Duhai Gadis..
Tau tau aku tak lagi sendiri..
Tau tau engkau tak lagi sendiri..

Duhai Gadis..
Tau tau sekarang engkau dan aku..
Tau tau bukan lagi engkau atau aku tapi kita..

Duhai Gadis..
Tau tau doa terus mengalir..
Tau tau harapan terus tertulis..

Duhai Gadis..
Aku mencintaimu...


Kethut Ragil
Jakarta, 20 Juli 2012
'unik'

Jumat, 20 Juli 2012

Sajak Sahabat

Engkau tak akan beranjak kemanapun jika engkau tak mau beranjak...
Engkau sebenarnya sedang menangisi ketidakmampuanmu untuk beranjak dari tempatmu kini..
Kenangan adalah kenangan..ia akan selalu hidup di hatimu, tapi tempatkanlah ia dengan bijak, jangan malah membuatmu tak bijak..
Apakah engkau mau ditampar lebih keras oleh keadaan agar engkau sadar, bahwa hidupmu jauh lebih berarti dari kenangan yang usang..
Banyak tangan yg ingin menggenggam hidupmu sahabat..
Menangislah karena engkau memang manusia biasa.. Menangislah untuk mencari muka di hadapan - NYA..
Maha Rencana telah berencana dengan sangat indah sahabatku.. bersabarlah dalam sabarmu..
Sahabatku.. kami (masih) disini...


Kethut Ragil
Jakarta, 20 Juli 2012

Selasa, 10 Juli 2012

Buntel

Membungkus semua nikmat yang berlalu lalang seharian...
Membungkus semua kelelahan yang memeluk seharian...
Membungkus semua senyum dan tawa yang terlahir seharian...
Membungkus semua amarah kecewa dan makian yang melukai seharian...
Membungkus semua tentangmu yang mengindahkanku seharian...  
Membungkus semuanya lalu meletakkannya di atas sajadah panjang malam ini...
Bungkusan - bungkusan yang akan kuletakkan didepan pintu langit malam ini..berteman doa dan syair yang mengindahkan nama - MU...

Buntel!

Kethut Ragil
Jakarta, 9 Juli 2012
bersyukurlah..bersyukurlah..bersyukurlah...

Selasa, 03 Juli 2012

Getir

Membaca tiap lakumu yang berbalut senyum ayu..
Dari sana tergambar getir yang hampir menutup hatimu..
Walau samar walau tak berwarna tetapi getir itu begitu kuat mendekapmu..
Seperti udara tipis pagi yang dingin menggigil..
Selayak romansa dari para pecinta...

Tenangkan hati..
Damaikan fikiran..
Kurangi bebanmu itu...


Kethut Ragil
Jakarta, 3 Juli 2012

Seorang Bapak Di Taman

Malam memijit kedua kaki yang lelah menapak bumi..
kedua kaki yang mengukur jalanan ibukota..
mengais sesuatu yang berserak di kotak - kotak berkerumunnya lalat..
melewati megahnya istana negara..
melintasi sombongnya para pencakar langit..
tanpa alas tanpa pelindung...

Malam menyelimuti tubuh renta berbalut kaos kucel dan celana yang yang sudah tak berbentuk..
terkapar lapar dibangku taman kota yang ramai lalu lalang manusia..
kedua mata lelah itu masih menerawang mengangkasa..
melukis harapan di langit purnama..
melukis wajah istrinya di surga..
melukis wajah anaknya di surga..
mengalirkan air mata membasahi pipinya...

Bagi beliau tak makan seminggu tak mengapa..
Bagi beliau tak mempunyai rumah tak mengapa..
Bagi beliau tak mempunyai kerabat tak mengapa..
Selama beliau masih mempunyai secuil asa..
Dan asa itu bernama harapan...

Kethut Ragil
Jakarta, 3 Juli 2012
Tuhan akan selalu menjaga engkau bapak tua di taman...